PAMERAN FOTO: Pengunjung mengamati sejumlah foto orang hutan dalam pameran yang digelar Centre for Orangutan Protection di Solo Grand Mall (SGM), Solo, Sabtu (12/5/2012).(14/5).

CETAK MURI: Lukisan kaligrafi berbahan dasar pelepah pisang sepanjang 720 meter karya 700 murid-murid SMK 2 Semarang, berhasil cetak rekor baru di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Sabtu (12/5) pagi.

Warga Babakan Padik, Desa Sukanegara, Kecamatan Muncang, Kabupaten. Lebak, Banten, Senin (14/5), menyebrang jembatan Sungai Cilaki yang sudah rusak dan lapuk.

Kamis, 10 Mei 2012

Dunlop Junior Tenis TDP 2012 Diprediksi Berlangsung Sengit

Media Nusantara, SOLO – Lebih dari 250 petenis dari berbagai daerah di Indonesia akan mengikuti Seri I Dunlop Junior Tenis Turnamen Diakui Pelti (TDP) 2012 di Lapangan Tenis Manahan Solo, Senin-Minggu (7-13/5). 
Persaingan di kejuaraan tenis kelompok umur ini diprediksi akan berlangsung sengit mengingat klub-klub tenis dari berbagai daerah di Indonesia akan mengirimkan wakil terbaiknya. Di antara klub yang sudah memastikan diri untuk tampil ialah Detec asal Jakarta.

“Deddy Tennis Club (Detec) adalah salah satu gudangnya petenis junior berskala nasional. Selain itu masih ada klub-klub lain, seperti FIK Bandung,” jelas Direktur Turnamen Dunlop Junior Tenis TDP, Totok Gani saat diwawancarai Minggu (6/5). Namun tidak sedikit petenis junior yang akan tiba dengan membawa nama daerahnya masing-masing dan sebagian lagi membawa nama perorangan. Antara lain mereka berasal dari Balikpapan, Aceh, Madura dan Kalimantan Selatan.   

Seri I Dunlop Junior Tenis TDP 2012 akan memperlombakan kelompok umur (KU) 10, KU 12, KU 14, KU 16 serta KU 18. Masing-masing KU akan mempertandingkan nomor tunggal dan ganda untuk putra maupun putri. “Kenapa Dunlop memilih menyelenggarakan untuk kelompok umur? Karena fokus kamu memang untuk pembibitan petenis-petenis junior di negeri ini,” jelas Totok.

Babak pertama dimulai Senin, dengan menggunakan Sembilan lapangan di Manahan, Solo. Panitia juga menggelar coaching clinic, Senin, dengan dipandu salah satu pelatih tenis terbaik di Indonesia, Deddy Prasetyo. (Tika A)

Mbah Harjo: Meski Usia Senja, Tetap Setia Dolanan Anak

Pembuat Dolanan Tradisional : Harjo, sedang beristirahat sejenak setelah membuat mainan tradisional di dalam rumahnya.

Kedua tangan keriputnya masih cekatan menggunting sebuah kertas. Tak lama kemudian, guntingannya tadi  menjadi bentuk tokoh wayang. Hebatnya, nenek renta ini membuat wayang kertas tanpa menggambar polanya terlebih dahulu. 
Selain wayang kertas, dia juga mampu membuat aneka mainan lain seperti othok-othok, kitiran (baling-baling), kurungan burung, dan klonthong-klonthong.

Ya, Mbah Harjo merupakan satu dari segelintir pembuat dolanan tradisional di Dusun Pandes, Sewon, Bantul yang masih aktif dan bertahan.

"Mbah buat mainan itu sudah lama, sejak masih muda. Awalnya lihat orang buat mainan, terus saya belajar dan mempraktekkan, langsung bisa," jelas Harjo, saat ditemui di rumahnya Senin, (10/5/2012).

Berbagai dolanan anak tradisional hasil karya nenek berusia 84 tahun ini tertata rapi di rumahnya. Dia mengaku menjual semua mainannya dengan harga Rp 1.000,- saja. Hampir setiap hari Harjo menjajakan aneka dolanan tradisionalnya ke Pasar Gamping, Sleman yang jaraknya sekitar 10 km dari tempat tinggalnya.

"Saya biasanya berangkat ke pasar jam 5 pagi dengan jalan kaki," ujarnya.
Ia menambahkan, membuat mainan adalah semata-mata untuk membuat anak-anak kecil bahagia dengan mainannya. Tekad Mbah Harjo dalam melestarikan dolanan anak juga dibuktikan dengan mengajari anak-anak usia dini sekolah Among Siwi membuat aneka mainan di pojok budaya, yakni suatu komunitas pelestarian dolanan anak.

"Saya sudah tua dan sering banyak lupanya, tapi kalau buat mainan saya masih bisa," tambahnya.

Dengan usianya yang lanjut dan pikun, seolah ketrampilan membuat mainan anak tradisional ini sudah melekat dan mendarah daging. (Daru Cahya W)

Do Fun at Dufan


Kora-Kora: Wahana permainan di dufan yang mengasah adrenalin
Dufan (Dunia Fantasi) memang tempat untuk do fun! Itulah kesan yang akan di dapat ketika berkunjung ke tempat wisata di kawasan Ancol Taman Impian, Jakarta Utara. Pengemasan bangunan dengan memakai warna-warna cerah semakin menambah kental suasana kegembiraan pengunjungnya.
Meskipun tiket masuk untuk menikmati berbagai wahana di Dufan harus merogoh ongkos yang tidak murah, sebesar Rp 110.000,00 untuk hari biasa dan Rp 130.000,00 hari Sabtu, Minggu. Namun, nyatanya Dufan tak pernah sepi. Harga tiket yang mahal tak menyurutkan niat masyarakat untuk berekreasi ke Dufan. Terbukti, antrean panjang di depan loket pembelian tiket selalu menjadi pemandangan yang biasa setiap harinya.

Cap bertuliskan Dufan sudah menempel di tangan. Semua pengunjung berbondong-bondong masuk untuk memulai bersenang-senang dengan ditemani cerahnya langit siang itu. Ada rasa penasaran yang sangat terutama bagi pengunjung yang belum pernah masuk arena Dufan. Mereka berfoto-foto, melihat-lihat dan tak sedikit pengunjung langsung menyerbu wahana yang diimpikannya sejak dari rumah.

Berbagai wahana dapat dinikmati oleh para pengunjung, mulai dari wahana permainan santai hingga mengasah adrenalin. Ada Bom Bom Car, Halilintar, Tornado, Kora-Kora, Nia Gara, Rumah Kaca, Rumah Miring, Ontang Anting, Kicir-Kicir dan masih banyak lagi.

Salah satu permainan yang cukup mendapat perhatian tinggi dari para pengunjung adalah Kora-Kora. Hal ini terbukti saat mereka rela mengantri lama dan panjang demi wahana yang bisa mengasah adrenalin itu.

Tongkang bergaya Korea berayun-ayun di udara dari atas ke bawah mempermainkan jantung penumpangnya. Saat posisi badan berada diatas, badan seperti akan di jungkirkan kebawah. Sebaliknya, saat diayun kebawah seolah-olah penumpang yang gilirannya diatas akan jatuh menuju kearah penumpang yang dibawah.
Pengunjung yang berfoto di dekat pintu keluar sebelum meninggalkan Dufan

Salah satu penumpang bernama Lita (15), seusai turun dari Kora-Kora masih saja pucat dan menangis sambil memanggil mama nya karena ketakutan. “Sumpah mbak, gilaaaaa!!!aku masih pengen hidup gak pengen mati dulu…”,ucap gadis itu, Sabtu (5/5/2012). Namun, meskipun permainan ini sangat mendebarkan dan menakutkan, tidak sedikit dari mereka justru tertawa dan ketagihan untuk naik lagi. Menurut mereka permainanan ini justru ampuh sebagai penghilang stres karena dapat membuang segala kepenatan dengan teriakan-teriakan yang lepas.

Wahana lain seperti Tornado, Halilintar, Rumah Boneka dan sebagainya juga mengalami hal yang sama yakni antrean panjang seperti ular. Namun salut buat para pengunjungnya karena gak kayak penonton bola. Mereka  tetap tertib dan tenang saat berdesak-desakkan menunggu antrean dengan pengunjung lain. “Waktu naik kora-kora, ruh saya seperti terpisah dari badan saya, menegangkan tapi asyik banget” ungkap Heri menceritakan pengalamannya, Sabtu (5/5/2012)

Banyak kesan yang tertoreh dalam memori perjalanan yang sungguh menegangkan dan mengasyikan. Bagi yang punya cukup keberanian, bermain Kora-Kora, Tornado, Kicir-Kicir, Halilintar, Ontang-Anting adalah pengalaman yang luar biasa. (Triyani)

Sabtu, 05 Mei 2012

Sepi Pembeli, Pedagang Pasar Nongko di Pasar Darurat Khawatir

Media Nusantara, SOLO-Sejumlah pedagang Pasar Nongko yang kini menempati pasar darurat di Jl Hasanudin, menyatakan kekhawatiran mereka atas sepinya pembeli. Sejak mereka berjualan di lokasi baru itu, belum banyak konsumen yang mendatangi pasar darurat.
“Ya tidak seramai seperti saat kami berjualan di Pasar Nongko. Belum banyaknya orang yang mengetahui keberadaan pasar darurat ini, mungkin juga yang membuat pasar darurat ini sepi," imbuh Endang Sriani salah seorang pedagang daging di pasar Nongko. 
Aktivitas para pedagang dari pasar Nongko yang direlokasikan ke pasar darurat tampak sepi Sabtu (5/5/2012).
 Pasar darurat yang sudah disediakan pemerintah jauh- jauh hari ini terdiri dari beberapa kios seperti yang ada di pasar Nongko seperti kios yang menjual kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak sayur- sayuran ,buah- buahan, perlengkapan dapur, juga alat- alat rumah tangga lainnya. ”Berjualan di pasar ini sudah 30 tahunan lebih jadi saya sudah tahu tentang seluk beluk pasar ini dengan upaya pemerintah untuk merenovasi pasar saya sangat setuju pokoknya yang terbaik sajalah, “ungkap Parmin salah satu pedagang sayuran saat ditemui di pasar darurat, Sabtu (5/5).
Masih barunya pasar darurat ini membuat suasana pasar masih sepi pembeli. “Para pedagang lain dan saya berharap pasar ini akan semakin ramai dengan berjalannya waktu. Sehingga akan menaikkan pendapatan para pedagang disini kembali. Dengan tidak mengertinya pembeli tentang keberadaan pasar ini membuat mereka pergi ke pasar lain mungkin ini juga faktor pasar darurat menjadi berkurang pembelinya, “tandas Endang yang sudah 2 tahun berjualan di pasar Nongko. (Ridha Karunia).   

Jumat, 04 Mei 2012

Warga Makamhaji Dirikan Posko Tolak Underpass

Tolak Underpass : Forum Komunitas Becak Sukoharjo (FKBS) 
sedang melakukan prosesi peresmian Posko Penolakan Underpass, Jumat (4/5). 

Media Nusantara, SUKOHARJO - Warga Makamhaji kembali menggelar unjuk rasa dengan mendirikan posko menolak pembangunan underpass (jalan yang  melintang dibawah jalan lain) di palang pintu perlintasan kereta api Makahmaji, Kartasura, Jumat (4/5) siang.
"Posko ini sebagai simbol  penolakan warga Makamhaji  terhadap pembangunan underpass. Tujuannya agar masyarakat waspada akan gerakan-gerakan pembangunan pemerintah," jelas Cucu Suryanto, juru bicara warga Makamhaji.
Dia menambahkan, pemerintah seharusnya tidak serta merta langsung membangun proyek tersebut. Pembangunan underpass, menurut Cucu, tidak memberi  dampak baik, justru lalu lintas akan macet dan terganggu karena rencananya terowongan yang dibangun hanya sepanjang 8 meter saja.
“Sebenarnya ada solusi lain, yakni dengan pelebaran jalan dibagian kanan dan kiri, dengan tengah jalan diberi pembatas” tambahnya.
Warga Makamhaji penolak pembangunan underpass itu tergabung dalam Forum Komunitas Becak Sukoharjo (FKBS) bersama Forum Komunitas Sukoharjo (FKS).
Aksi demo ini berlangsung singkat dan tertib sehingga tidak menyebabkan kemacetan. (Daru Cahya W)

Kamis, 03 Mei 2012

Keindahan Istana Ratu Boko

Candi Ratu Boko adalah salah satu situs sejarah yang berada di Jalan Raya Jogja-Solo, Prambanan, Yogyakarta. Ketenarannya mungkin kalah dengan Candi Prambanan yang letaknya hanya 3km dari Candi Ratu Boko. Namun keindahannya tentu dapat dibandingkan. Dari Ratu Boko kita dapat melihat pemandangan indah kota Jogja dari atas ketinggian 196 m di atas permukaan air laut.

Yang menarik dari candi-candi lain adalah, Ratu Boko tidak tampak seperti candi atau tempat pemujaan tapi lebih mirip dengan sebuah hunian atau tempat tinggal karana di dalamnya terdapat pendopo, balai-balai, juga keputren. Candi ini sering disebut juga dengan Istana Ratu Boko. Bangunan ini didirikan pada abad ke-8 pada masa dinasti Syailendra. Konon, ini adalah bangunan termegah pada masa itu. 

Areal seluas 250.000 m2 ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian  pertama adalah bagian tengah. Terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Saat masuk kita akan langsung menuju ke gapura utama. Gapura utama terdiri dari dua gapura batu besar. Setelah melewati gapura, kita akan dapat melihat lapangan luas yang bersebelahan dengan Candi Pembakaran dan sumur suci. Candi Pembakaran ini merupakan bangunan yang terbuat dari batu andesit berukuran panjang 22,6 m, lebar 22,3 m, dan tinggi 3,2 m. Disebut Candi Prmbakaran karena ditemukannya abu di sini sehingga orang-orang menganggap bahwa candi ini dulunya digunakan untuk membakar jenazah.

Saat senja tiba, keindahan matahari terbenam akan sangat terasa di sini. Banyak pengunjung yang menanti sunset bahkan sunrise di sini. Tak sedikit pula fotografer yang mengabadikan moment ini. Keindahan alam ini dapat dinikmati hanya dengan membayar tiket masuk senilai Rp 25.000,00. Loket dibuka dari pukul 06.00 dan ditutup pukul 18.00 WIB. (Intan)

Cembengan, Ritual Unik di Pabrik Gula Tasikmadu

Ritual Cembengan di Pabrik Gula Tasikmadu, Karanganyar, Jateng, Kamis (3/5). Ritual ini mengawali rangkaian Selamatan Giling Tebu sebagai tanda dimulainya Musim Giling 2012
Ritual Cembengan, mulanya merupakan tradisi  ziarah pekerja Tionghoa yang disebut Cing Bing. Ritual ini dilakukan di Pabrik Gula Tasikmadu, warisan Mangkunegaran IV. Ritual Cembengan dilakukan secara turun-temurun. Masyarakat lokal menyebut tradisi ini Cing Bing-an, yang kemudian populer dengan sebutan Cembengan, karena kata Cing Bing-an sulit dilafalkan. Ritual ini merupakan pernikahan tebu laki-laki dan perempuan. Pengantin tebu ini sebelum dinikahkan diarak keliling sekitar pabrik gula.
Tebu yang dinikahkan juga diberi nama sebagai simbol sesuai jenis kelaminnya. Tebu yang berwarna hitam, bernama Bagus Joko Seger, sebagai simbol laki – laki, sedangkan tebu yang berwarna kuning bernama Roro Ayu Radhit Manis sebagai simbol perempuan. “Pemberian nama tebu dan menikahkan tebu tersebut mengandung makna akan terbentuk keluarga yang damai sejahtera. Makna lebih jauhnya adalah bentuk kerjasama yang baik antara perusahaan dan petani tebu,” jelas Suparno, sinter kebun Pabrik Gula Tasikmadu saat ditemui di Pabrik Gula, Kamis (3/5).
Pada arak – arakan ini disertakan pula berbagai macam sesaji, seperti kepala kerbau, gagar mayang (bunga pohon tebu), kembang telon (tiga jenis bunga), joli (terbuat dari bambu kertas hias), berbagai jenis bubur, tumpeng, dan hasil bumi. Sesaji ini merupakan simbol kekuatan untuk menolak bencana atau bala. Selesai diarak, dilakukan pembacaan doa, kemudian aneka sesaji diletakkan disejumlah tempat didalam pabrik terutama di deretan mesin giling.
Suparno menambahkan, nilai utama dari Ritual Cembengan untuk memohon kelancaran dalam penggilingan tebu. Rencananya tebu yang harus digiling pada tahun ini sebanyak 4.300.000 kwintal. “Nilai utama acara ini untuk berdoa bersama, agar giling tebu tahun 2012 ini  bisa berjalan lancar dan sukses, sehigga rencana target penggilingan tebu yang telah kita rancang dapat tercapai, “ jelanya.," kata Suparno.
Ritual unik ini menarik minat banyak warga untuk melihatnya, seperti Alex (37) warga asal Jakarta yang baru menetap setahun di Karanganyar. Begitu penasarannya, Alex bahkan sudah ada di lingkungan pabrik sejak siang. Menyaksikan bersama keluarga, ia mengaku terkesan dengan tradisi itu. “Sungguh unik. Saya baru dengar ada tradisi semacam ini di Karanganyar,” kata Alex.
Tahun ini, Ritual Cembengan menggunakan satu kepala kerbau untuk acara selamatan, berbeda dengan tahun 2011 lalu yang menggunakan tiga kepala kerbau. Penggunaan kepala kerbau dalam ritual ini hanya adalah sebagai sesaji untuk memohon keselamatan dalam proses penggilingan tebu. Hal ini merupakan tradisi yg wajib berjalan sejak Kanjeng Gusti Mangkunegara IV sebagai pendiri Pabrik Gula Tasikmadu yang saat itu juga menggunakan kepala kerbau. "Untuk Pabrik Gula Tasikmadu ini tradisinya masih kuat sekali. Jadi, sebagai anak muda, kita harus melanjutkan yang sudah menjadi tradisi," tambah Suparno. (Erlita Kusumaningtyas)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More